
Oleh : NADYA WAHYU EFENDI
Mahasiswa PGMI, Sekolah – Tinggi – Ilmu – Tarbiyyah – Al – Fattah – Siman – Sekaran – Lamongan.
Perkembangan ilmu politik mencatat saat ini demokrasi mencapai babak baru, dari demokrasi perwakilan bergerak ke demokrasi deliberatif (yang lebih demokratis). Demokrasi deliberatif berakar pada konsepsi “ruang publik” (public sphere) dari Habermas (2007a, 2007b, 2008). Demokrasi deliberatif mengutamakan penggunaan tata cara pengambilan keputusan yang menekankan musyawarah dan penggalian masalah melalui dialog dan tukar pengalaman di antara para pihak dan warga negara (stakeholder).
Media sosial berdampak positif ketika menciptakan keterbukaan informasi. media sosial memampukan warga mencari informasi untuk kepentingan-kepentingan kehidupannya, sebagaimana diperjuangkan oleh Rebel Net. media sosial juga mendorong tumbuhnya kelas menengah yang demokratis dan kritis, sedangkan media sosial ada yang berdampak positif ada pula yang berdampak negatif tergantung penggunaannya. tujuannya untuk mencapai mufakat melalui musyawarah berdasarkan hasil-hasil diskusi dengan mempertimbangkan berbagai kriteria. Keterlibatan warga (citizen engagement) merupakan inti dari demokrasi deliberatif. Demokrasi mensyaratkan adanya distribusi informasi yang adil bagi warganya. Melalui informasi warga memiliki akses pengetahuan dan dapat menentukan pilihan yang terbaik bagi dirinya. kondisi ini berlaku sama di semua bidang, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun hukum.
Demokrasi dalam Media Sosial
Demokrasi menurut KBBI, yaitu kerakyatan; pemerintahan atas asas kerakyatan; pemerintahan rakyat (dengan perwakilan).
Menurut Prof. DR. H. Kaelan, M.S. demokrasi memiliki arti yang penting bagi masyarakat, negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat, atau jika ditinjau dari sudut organisasi yaitu suatu pengorganisasian negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri atau asas persetujuan rakyat karena kedaulatan berada ditangan rakyat.
Sedangkan pembahasan tentang peranan negara dan masyarakat tidak terlepaskan dari demokrasi. Pertama, hampir semua Negara menjadikan demokrasi menjadi asas fundamental. Kedua, demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan negara sebagai organisasi tertinggi tetapi ternyata demokrasi berjalan dalam jalur yang berbeda-beda ( Rais, 1995:1 ).
Peran Media Sosial dalam Era Demokrasi
Media menurut KBBI, yaitu perantara (informasi), sarana komunikasi, penengah, atau wahana. media sosial telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri, menggaliinformasi, bahkan memobilisasi massa. aksi protes yang terjadi di belahandunia tersebut merupakan buah dari keterbukaan informasi yang terdapat dalam media internet, sehingga media ini menjadi ruang baru bagi demokrasi rakyat.
Media sosial bukanlah hal baru dalam dunia komunikasi, jenis media ini masuk kedalam kategori new media yang salah satu definisinya berupa pesan informasinya melalui media internet berupa email, live streaming, mailing list, ataupun telepon genggam. Salah satu karakteristik dari new media adalah kecepatannya dalam menyampaikan informasi dibandingkan media cetak ataupun elektronik. Melalui salah satu definisinya yaitu media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter serta dukungan telepon pintar membuat orang kapan saja dan dimana saja dapat mengakses serta menyebarkan informasi secara lebih cepat. Kehadiran media sosial tersebut beserta dukungan kecanggihan alat komunikasi membuat interaksi masyarakat di dunia semakin cepat dan up to date sehingga memiliki makna tersendiri dalam arus demokrasi.
Demokrasi perwakilan yang selama ini dianut oleh banyak negara adalah interaksi antara elit dan massa, di mana melalui perwakilannya baik eksekutif maupun legislatif masyarakatmengharapkan suaranya dapat didengar atau menjadi salah satu masukan bagi kebijakan negara. komunikasi yang terjalin pun berlangsung secara lateral atau lebih kepada pemimpin yang bersifataktif menyuarakan suara massa. sedangkan massa sendiri terkadang merasa suaranya tidak terwakilidan cenderung di monopoli oleh pemimpin negaranya. Ben jamin Barber dalam “ Which Technology and Which Democracy ” mengungkapkan bahwa internet menawarkan sebuah alternatif komunikasi untuk massa saling berkomunikasi dan bersuara tanpa perantara elit politik sehingga ada wacana menentang pola komunikasi hirarkis dalam politik dengan demikian new media mendorong demokrasi secara langsung.
Secara demokratis proses ini mungkin sangat efektif untuk menjalin relasi yang kuat antara masyarakat sipil sehingga peran institusi politik yang terkadang korup dan elitis tersebut terlimitasi oleh komunitas virtual. dalam komunitas ini massa bisa saling berinteraksi satu sama lain tanpa takut ekspresi dirinya tidak diakomodir oleh politisi atau pemangku kebijakan. beralihnya massa menggunakan media internet sebagai suara alternatif dari instrument demokrasi yang ada sebagai tanda bahwa ada ketidakharmonisan komunikasi antara lembaga negara dan masyarakat. hal tersebut juga terjadi dunia barat di mana gerakan sosial termediasi melalui saluran media sosial.
Jika menilik sejarah, bangsa Indonesia terus mengalami kematangan dan kedewasaan dalam berpolitik serta bernegara. Gelaran pilpres sebagai amanat konstitusi dalam proses suksesi nasional makin demokratis dan transparan. berbagai fase dalam proses pergantian kepemimpinan telah dilalui bangsa Indonesia dengan tetap menjaga empat pilar negara, yaitu Pancasila, Bhinneka Tinggal Ika, UUD 1945, dan NKRI.
Ada tiga fase penting yang dilalui bangsa Indonesia dalam menentukan pemimpinnya. Pertama fase revolusi, kedua fase demokrasi perwakilan, dan ketiga fase demokrasi langsung. Setiap fase memiliki ciri khas dan menggambarkan kematangan bangsa Indonesia menuju puncak kejayaan.
Tantangan baru yang muncul di era pemilihan presiden secara langsung ialah terlibatnya seluruh lapisan masyarakat dalam hiruk pikuk persaingan politik dan kekuasaan. Teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang menjadi sisi lain yang turut mewarnai kompetisi politik lima tahun ini.
Persaingan politik dan perebutan kekuasaan tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di ranah dunia maya. Inilah tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini. Kesiapan dan kedewasaan bangsa Indonesia dalam menggunakan teknologi informasi komunikasi untuk kepentingan politik praktis. Egoisme, arogansi, dan kegagapan dalam menggunakan teknologi informasi menjadi persoalan utama yang harus diselesaikan.
Jadi, intinya kita sebagai masyarakat jangan mau untuk dipermainkan khususnya dalam hal politik, media massa dan lain sebagainya. sebagai warga indonesia yang tepat harus bisa membedakan mana berita yang hoax dan berita yang sesungguhnya. maka dari itu jadilah pemilih, pemilih yang cerdas dalam memilih.










